Dolar AS Tertekan Jelang Rencana Pembatalan Pembelian Treasury Oleh China

pembelian treasurySURABAYA-BISNISKINI: Setelah melemah pada Rabu (10/1/2018) kemarin, dolar AS diyakini akan melanjutkan ketidakberdayaannya pada perdagangan hari ini menyusul adanya stimulus negatif dari kebijakan pemerintah China terkait rencana akan melambatkan atau bahkan menghentikan pembelian treasury AS. Hal ini, menurut Financial Consultant and Trader Starpeak Surabaya ,Hendrianto, bakal memberikan dampak tertekannya mata uang dolar dalam perdagangan valuta.

“Diprediksi indeks dolar mengukur kekuatan greenback terhadap enam mata uang utama mengalami penurunan sekitar 0,3 persen menuju level 91.93,” ujarnya kepada Bisniskini.com, Kamis (11/01/2018).

Stimulus negatif ini datang, lanjut Hendri, adanya pelaporan dari Bloomberg bahwa para pejabat China akan mengkaji ulang kepemilikan valuta asing dengan memberikan rekomendasi untuk memperlambat atau penghentian pembelian treasury AS.

“Sedangkan seperti diketahui bersama, China adalah negara asing pemilik treasury AS terbesar,” lanjutnya.

Dalam catatannya, Hendri juga menjelaskan bahwa, yield treasury AS bertenor 10 tahun naik ke level tertinggi dalam 10 bulan terakhir setelah pelaporan tersebut. Kenaikan Yield menyebabkan harga obligasi mengalami penurunan.

“Ditambah lagi, rencana pengurangan pembelian traesury oleh China ini justru menjelang rencana The Federal Reserve merilis neraca keuangan setelah melewati dampak krisis,” ungkapnya.

Sekadar diketahui, pada sepanjang hari Rabu (10/1/2018) kemarin, tingkat yield obligasi AS mengalami kenaikan sebesar 2,56 persen, tertinggi sejak Maret tahun lalu.

“Kita lihat saja, nanti ketika keputusan The Fed untuk menaikkan suku bunga, yang dibarengi dengan keputusan pemerintah China terkait penghentian treasury akan beroengaruh seperti apa terhadap konstelasi perekonomian dunia,” tuturnya.(POUNDRA/ZAL)

10 Industri Mebel Na
Jembatan Ratna Dires
Rate This Article:
NO COMMENTS

LEAVE A COMMENT