Mobil Beremisi Karbon Rendah, Diprediksi Masuki Pasar Indonesia Tahun 2025

kendaraan beremisi karbon rendah

Kendaraan-kendaraan beremisi karbon rendah diperkirakan memasuki pasar Indonesia mulai 2025. Dampaknya bisa mengurangi pencemaran lingkungan. Tampak lalu lintas di salah satu ruas jalan di Surabaya. FOTO: BISNISKINI/AKBAR

JAKARTA-BISNISKINI: Pemerintah Indonesia menargetkan pada tahun 2025, sekitar 25 persen atau 400 ribu unit LCEV (Low Carbon Emission Vehicle), atau kendaraan beremisi karbon rendah sudah memasuki pasar Indonesia.

“Dalam roadmap yang kami kembangkan, LCEV didorong melalui berbagai tahapan,” kata Menteri Perindustrian (Menperin), Airlangga Hartarto seperti dikutip dari Humas Kemenperin, Senin (13/11/2017).

Menurut Airlangga, kendaraan hybrid menjadi salah satu tahapannya, karena saat ini infrastruktur untuk stasiun pengisi tenaga listrik belum banyak tersedia. Mobil ini bisa menggunakan dua sumber energi, BBM dan listrik. Untuk itu, produsen perlu lebih memperkenalkan kepada konsumen terhadap teknologi yang diterapkannya.

Sementara Dirjen Industri Logam, Mesin, Alat Transportasi, dan Elektronika (ILMATE) I Gusti Putu Suryawirawan mengungkapkan, Indonesia merupakan pasar otomotif terbesar di Asia Tenggara. Pada tahun 2016, industri otomotif dalam negeri memproduksi sebanyak 1,1 juta unit mobil.

“Aktivitas usaha sektor otomotif mulai dari sektor hulu yang meliputi industri bahan baku dan industri perakitan kendaraan bermotor hingga sektor hilir seperti jasa purna jual dan pembiayaan, sangat besar kontribusinya terhadap perekonomian nasional,” tegasnya.

Maka industri otomotif menjadi salah satu sektor yang diprioritaskan pengembangannya sesuai Kebijakan Industri Nasional. Menurut Putu, dengan kapasitas produksi nasional sebesar 2,2 juta unit mobil per tahun, industri otomotif dalam negeri perlu memaksimalkan potensi tersebut agar memiliki daya saing yang lebih tinggi.

Potensi kapasitas produksi ini dapat dimaksimalkan untuk pengembangan produksi kendaraan LCEV serta menggunakan platform yang memenuhi kebutuhan domestik sekaligus permintaan pasar ekspor ke seluruh dunia

“Peningkatan pada utilisasi kapasitas produksi industri dalam negeri, investasi baru dan perluasan, transfer teknologi, penyerapan tenaga kerja, serta Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) merupakan tujuan yang harus kita wujudkan bersama,” ujarnya.

Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto menyampaikan, yang terpenting bagi produsen otomotif nasional saat ini dalam upaya mempercepat pengembangan dan komersialisasi kendaraan listrik adalah pemberian insentif fiskal.

“Sekarang para manufaktur sudah punya teknologinya, tinggal diberi insentif. Kalau tanpa insentif, harga mobil listrik bisa lebih mahal 30 persen daripada mobil biasa, karena menggunakan dua engine,” jelasnya. (CR-01/AZT)

Dukung Lingkungan, P
Bekraf Tunjuk Banyuw
Rate This Article:
NO COMMENTS

LEAVE A COMMENT