Perjuangan Pedagang Garam Sekolahkan Anak Hingga Sarjana

Kassan Syafii menata dagangannya di terminal Bungurasih pukul 6 pagi. Ia akan berangkat menjualkan daganganya ke daerah Surabaya dengan sepeda kayuhnya. FOTO: BISNISKINI/DEWID

Perjuangan berdagang garam Kassan Syafii (56) tidak pernah surut meski sudah dikikis usia. Demi menjadikan nasib anaknya lebih baik, ia rela mengayuh sepeda mulai pukul enam pagi. Bermodalkan sepeda lawas alias sepeda “kebo“, dirinya berkeliling Surabaya menjual garamnya pada masyarakat kota.

“Sekitar jam 6 pagi, saya berangkat ke salah satu parkiran di terminal Purabaya menggunakan sepeda motor. Nah di parkiran itu juga saya taruh sepeda, saya jualan kaki,” kata pria kelahiran 12 Juli 1961 ini.

Bersama istrinya yang mengurus rumah tangga, ia selalu menanamkan bahwa ialah yang bertanggung jawab pada keluarga, dari biaya maupun kesejateraan sekeluarga. Karena itulah, ia tidak menyuruh istrinya untuk mengurus kebutuhan rumah tangga dibandingkan membantu mencari nafkah.

Dengan sepeda tua dengan setir maupun rodanya yang sudah aus, ia menenteng dua puluh kilogram garam di sisi kiri dan kanan bagian belakang sepeda. Tak hanya itu, Kasan juga harus menahan kakinya pada ban depan jika ingin berhenti, lantaran remnya yang sudah tak berfungsi.

Kasan mengaku membeli sepedanya seharga Rp350.000 dari penjual barang bekas di daerah Sepanjang, Sidoarjo. Mulai dari rumahnya Bungurasih, Kasan harus melahap rute Sidoarjo, Jalan Ahmad Yani, Surabaya, Rungkut, hingga Mulyosari.

“Uang bensin bisa dipergunakan buat yang lainnya. Uang saku anak maupun kebutuhan rumah,” ucap Kassan dengan nada berat.

Saat ditanya mengenai kenaikan harga garam, ia mengaku cukup terkejut, sebab selama 22 tahun ia menjual garam, baru kali ini harganya melonjak dua kali lipat, yang awalnya Rp 6.500 tiap kotak kecil, sekarang jadi Rp 16.000. Ia mengakui kesulitan untuk kulakan garam, karena modal yang ia keluarkan semakin tinggi, sedangkan keuntungan yang didapatnya tak bertambah.

Dalam sehari, Kassan membawa pulang hasil jualnya rata-rata 200.000 per harinya. Hasil tersebut ia tabung untuk melanjutkan masa depan anak-anaknya. Ia juga menuturkan, sering kali pembeli asal menawar, dari harga Rp.16.000 yang ia patok, pernah sekali ditawar seharga Rp.5000 oleh salah seorang pembeli di daerah Sukolilo, Surabaya.

“Sampai para pembeli kesal, tidak jadi beli, dan bahkan sempat marah saat tawar-menawar. Tapi saya yakinkan pada mereka (pembeli) bahwa pemerintah pasti punya maksud baik di balik naiknya harga,” ujar pria berkumis tebal ini.

Bapak dua orang anak ini mengaku selalu bersyukur dengan hasil yang ia dapatkan. Kasan juga membuktikan, dengan hasil berjualan garam, ia berhasil menyekolahkan anaknya hingga ke jenjang perguruan tinggi.

“Alhamdulillah, anak pertama saya sudah sarjana, baru diwisuda bulan Maret lalu. Sekarang tinggal anak kedua yang masih sekolah kelas 12 di SMAN 2 Sidoarjo,” tambahnya sembari tersenyum.

Semenjak kelulusan anak pertamanya, ia semakin merasa yakin untuk mengantarkan anak keduanya ke jenjang yang sama. Hal tersebut lantaran anak pertamanya telah mendapatkan salah satu peringkat terbaik jurusan Fakultas Matematika dan Pengetahuan Alam, di Universitas Negeri Surabaya (UNESA).

“Lebih baik saya bekerja seperti ini tapi halal. Namanya manusia juga tidak boleh berhenti berusaha. Semoga nantinya anak-anak saya bisa bernasib lebih baik dari saya,” tutupnya. (DEWID/ZAL)

POST TAGS:
FOLLOW US ON:
Venna Melinda Dorong
Jelang Natal dan Tah
Rate This Article:
NO COMMENTS

LEAVE A COMMENT